Jangan salah paham, berikut mitos juga fakta tentang epilepsi

DKI Jakarta – Epilepsi masih rutin diselimuti bermacam mitos yang digunakan keliru juga bukan berdasar. Banyak pendatang percaya bahwa kejang akibat epilepsi disebabkan oleh hal mistis atau sanggup menular cuma dengan berinteraksi. Mitos-mitos ini bukanlah semata-mata menguatkan stigma, tetapi juga menciptakan penderita epilepsi merasa terasing di masyarakat.
Padahal, epilepsi adalah gangguan medis yang digunakan mampu dijelaskan secara ilmiah lalu dapat dikelola dengan penyembuhan yang dimaksud tepat. Dengan mengenali fakta sebenarnya, kita mampu membantu menghapus stigma serta memberikan dukungan yang mana lebih banyak baik bagi penderita epilepsi.
Lalu, apa semata mitos yang tersebut masih mengalami perkembangan di dalam warga dan juga bagaimana faktanya? berikut penjelasannya.
1. Mitos: Semua kejang disebabkan oleh epilepsi
Faktanya, tak semua kejang menandakan epilepsi. Beberapa status lain, seperti kadar gula darah rendah atau kelainan jantung, juga dapat menyebabkan kejang. Ada juga psychogenic non-epileptic seizures (PNES) yang dimaksud disebabkan oleh trauma psikologis, tidak gangguan otak.
2. Mitos: Penderita epilepsi tak mampu bekerja
Faktanya, sejumlah penderita epilepsi mampu bekerja dengan baik jikalau kejang merek terkendali oleh pengobatan. Beberapa profesi, seperti pilot atau pengemudi kendaraan besar, memang sebenarnya miliki aturan ketat. Namun, di luar itu, mereka mampu berkarier seperti penduduk lain.
3. Mitos: Semua penderita epilepsi mengalami kejang hebat
Faktanya, ada lebih besar dari 40 jenis kejang. Tidak semuanya menyebabkan aksi tubuh yang dimaksud ekstrem. Beberapa kejang semata-mata berbentuk tatapan kosong atau kebingungan sesaat.
4. Mitos: Epilepsi adalah penyakit seumur hidup
Faktanya, epilepsi tidaklah setiap saat bersifat permanen. Dengan penyembuhan yang mana tepat, sekitar 70 persen penderita dapat bebas dari kejang. Beberapa jenis epilepsi pada anak bahkan dapat hilang seiring pertumbuhan.
5. Mitos: Epilepsi adalah gangguan mental
Epilepsi kerap disalah artikan sebagai kelainan mental oleh sebab itu beberapa gejalanya terlihat seperti perilaku aneh atau tidaklah biasa. Namun, epilepsi sebenarnya adalah kelainan pada sistem saraf yang digunakan disebabkan oleh aktivitas listrik abnormal ke otak.
Meski begitu, penderita epilepsi memang benar mempunyai risiko lebih tinggi lebih tinggi mengalami gangguan mental mental seperti depresi atau kecemasan. Bukan lantaran epilepsinya sendiri, tetapi akibat stigma dan juga tantangan yang digunakan merekan hadapi di hidup sehari-hari.
6. Mitos: Harus menahan tubuh khalayak yang digunakan sedang kejang
Faktanya, menahan tubuh seseorang yang dimaksud kejang justru berbahaya dan juga dapat menyebabkan cedera. Biarkan kejang berlangsung sambil mempertahankan area di dalam sekitar mereka masih aman.
7. Mitos: Memasukkan benda ke mulut ketika kejang menjaga dari lidah tergigit
Faktanya, ini keliru juga berbahaya. Memasukkan benda ke mulut bisa jadi menyebabkan gigi patah, rahang cedera, atau tersedak.
Dengan mengenali fakta yang digunakan benar, kita dapat membantu menghurangi stigma kemudian memberikan dukungan yang digunakan lebih tinggi baik bagi dia yang mana hidup dengan epilepsi.
Artikel ini disadur dari Jangan salah paham, berikut mitos dan fakta tentang epilepsi






