Bisnis
BKPM: Tren penanaman modal proses lanjut meningkat lima tahun terakhir

DKI Jakarta – Kementerian Investasi/Badan Kerjasama Penanaman Modal (BPKM) mengemukakan realisasi penanaman modal sektor pengolahan berubah menjadi barang bernilai tambah tinggi (hilirisasi), mengalami tren peningkatan di kurun waktu lima tahun terakhir, yakni pada 2019-2023.
Deputi Sektor Pengembangunan Iklim Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM Riyatno dalam Jakarta, Rabu mengatakan, pada tahun 2019 pihaknya mencatatkan realisasi pembangunan ekonomi di sektor proses pengolahan lebih lanjut lapangan usaha logam dasar, barang logam, tidak mesin juga peralatan belaka sebesar Rp61,6 triliun, namun pada 2020 meningkat berubah jadi Rp94,8 triliun.
"Ini menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi dalam sektor realisasi ini terus meningkat," kata dia.
Selanjutnya pada tahun 2021, realisasi pembangunan ekonomi di sektor proses pengolahan lebih lanjut tercatat sebesar Rp117,5 triliun, meningkat kembali pada tahun 2022 berubah menjadi Rp171,2 triliun, juga pada tahun tak lama kemudian melonjak berubah menjadi Rp200,3 triliun.
Menurut dia, peningkatan itu dikarenakan para penanam modal mengamati adanya peluang besar pada pengembangan sektor pengolahan ke Tanah Air, mengingat cadangan komponen baku pengembangan lebih lanjut di dalam RI cukup besar.
Seperti dijelaskan oleh Direktur Hilirisasi Perkebunan, Kelautan, Perikanan, dan juga Kehutanan Kementerian Investasi/BKPM Mohamad Faizal, yang tersebut menyampaikan bahwa Nusantara merupakan negara penghasil materi baku yang dimaksud sejumlah dibutuhkan untuk pengembangan lapangan usaha dunia.
Menurut dia, Negara Indonesia memiliki cadangan 21 persen nikel secara global, 16,3 persen cadangan timah dunia, 3 persen tembaga global, 4 persen bauksit, dan juga produsen kelapa sawit terbesar di dunia.
"Potensi nikel kita nomor satu di dunia, timah potensinya nomor dua dalam dunia, bauksit nomor enam, begitu pula dengan sawit. Sawit kita nomor satu dalam dunia, kelapa nomor satu, karet nomor dua, udang nomor tiga, ikan tuna, cakalang, kemudian tongkol nomor satu pada dunia, dan juga rajungan nomor dua," ujarnya.
Artikel ini disadur dari BKPM: Tren investasi hilirisasi meningkat lima tahun terakhir





