Teknologi AI Pengganti Pekerja?

Candra Fajri Ananda
Staf Khusus Menteri Keuangan
BEBERAPA tahun terakhir, kuantitas Tenaga Kerja (TK) di area berbagai negara terus menunjukkan tren peningkatan yang tersebut signifikan, termasuk Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan bahwa pada Februari 2023, jumlah keseluruhan angkatan kerja di area Indonesia mencapai 144 jt orang, meningkat sekitar 2,5 jt dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan jumlah total tenaga kerja tentu menyebabkan dampak positif, teristimewa dari sisi penyediaan sumber daya manusia yang digunakan memadai untuk memenuhi keinginan sektor-sektor sektor ekonomi yang digunakan terus berkembang. Selain dari sisi kuantitas, kualitas tenaga kerja pun mengalami peningkatan.
Hal yang dimaksud terlihat dari data BPS (2023) yang dimaksud menunjukkan bahwa total tenaga kerja pada Indonesia yang memiliki lembaga pendidikan menengah ke melawan mencapai 63,6% dari total angkatan kerja, naik dari 60,5% di dalam tahun 2020. Standard tenaga kerja yang mana semakin baik yang dimaksud memberikan dampak positif pada produktivitas nasional.
Teori pertumbuhan perekonomian menyebutkan bahwa peningkatan kualitas tenaga kerja melalui lembaga pendidikan kemudian pelatihan dapat berkontribusi pada peningkatan output juga efisiensi dunia usaha secara keseluruhan. Artinya, dengan tenaga kerja yang tersebut lebih lanjut terdidik juga terampil, sektor-sektor kegiatan ekonomi di area Indonesia memiliki potensi lebih tinggi besar untuk berinovasi juga meningkatkan daya saing dalam pangsa global.
Seiring dengan peningkatan kuantitas dna kualitas tenaga kerja, sektor-sektor perekonomian di tempat Indonesia juga mengalami integrasi yang digunakan semakin erat. Integrasi ini ditandai dengan semakin terhubungnya berbagai sektor ekonomi, baik di area tingkat lokal, nasional, maupun internasional.
Alhasil, kondisi yang disebutkan menciptakan tantangan baru di hal efisiensi operasional, teristimewa mengingat semakin terbatasnya Narasumber Daya Alam (SDA) yang tersedia. Angka Kementerian Energi dan juga Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa cadangan minyak bumi Indonesia semata-mata tersisa untuk 9,5 tahun ke depan dengan tingkat produksi pada waktu ini.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, maka sektor-sektor sektor ekonomi mutlak dituntut untuk semakin efisien di menggunakan SDA yang mana ada. Sekaligus mengembangkan metode baru untuk memanfaatkan sumber daya secara lebih tinggi berkelanjutan.
Kini, teknologi adalah jawaban di meningkatkan efisiensi, baik pada proses produksi maupun off production seperti logistik juga manajemen rantai pasok. Pengaplikasian teknologi digital – seperti Siber of Things (IoT) juga Artificial Intelligence (AI) – sudah memungkinkan perusahaan untuk mengotomatisasi proses produksi, meningkatkan akurasi, juga mengempiskan limbah.
Studi dari McKinsey (2023) menyebutkan bahwa perusahaan yang mengadopsi teknologi digital pada operasional dia dapat meningkatkan produktivitas hingga 30%. Selain itu, teknologi juga membantu pada kegiatan off production dengan mengoptimalkan rantai pasokan serta distribusi, yang dimaksud pada akhirnya meningkatkan efisiensi serta menurunkan biaya operasional.





